Jaringan Komunal: Mengingat Kembali Kartu Kuning Toba Caldera

Erupsi.com, Medan – Jaringan Komunal Se-Danau Toba dan Sumatera Utara menggelar diskusi terbuka di Kota Medan, Sabtu (1/3/2025). Diskusi ini membahas Kartu Kuning yang diberikan UNESCO terhadap Toba Caldera atau Kaldera Toba di Sumatera Utara pada 2023 lalu.

Menurut Corry Parama Pandjaitan dari Sanggar Dolok Sipiak selaku narasumber diskusi, status yellow card atau kartu kuning ini merupakan peringatan yang dapat mengancam status Toba Caldera dari daftar Global Geopark.

Pengelolaan kawasan Danau Toba, kata Corry, masih carut-marut dari sisi administrasi atau manajerial dan visibility. Khususnya pada pengelolaan 16 geosite serta dua pusat informasi. Hal ini disinyalir menjadi satu di antara alasan munculnya peringatan dari UNESCO.

“Permasalahan administrasi ini seakan sulit untuk dilakukan, walau pada realitanya kerap kali menghadirkan akademisi. Tapi tidak menghasilkan pemikiran solutif, strategis dan aplikatif terhadap pengelolaan kawasan Danau Toba,” ujarnya.

Jaringan Komunal Se-Danau Toba dan Sumatera Utara
Diskusi terbuka yang digelar Jaringan Komunal Se-Danau Toba dan Sumatera Utara di Kota Medan, Sabtu (1/3/2025). (Istimewa)

Kartu kuning dari UNESCO untuk Kaldera Toba merupakan peringatan atas pengelolaan yang belum menyentuh beberapa isu penting, yakni geo diversity, bio diversity dan culture diversity. Peringatan ini dianggap sebagai tamparan keras bagi pengembangan wilayah Danau Toba selama ini.

Menurut John Robert Simanjuntak dari Jendela Toba, Toba Caldera meliputi tujuh kabupaten di Sumatera Utara. Ia mengingatkan pentingnya menguatkan kembali pengetahuan kultural masyarakat, keanekaragaman hayati, bentang alam secara komunal.

“Tidak hanya sebatas kepentingan kaldera, melainkan pengetahuan terhadap laju peradaban kehidupan manusia,” kata dia.

Rangkul Semua Kalangan

Sementara itu, General Manager Toba Caldera UNESCO Global Geopark (TC-UGGp) Azizul Kholis menjelaskan bahwa pihaknya memiliki program Forum Organisasi Rembuk. Program ini merangkul semua kalangan organisasi untuk memperjuangan Toba Caldera.

General Manager TC-UGGp Azizul Kholis pada diskusi terbuka yang digelar Jaringan Komunal Se-Danau Toba dan Sumatera Utara menggelar di Kota Medan, Sabtu (1/3/2025). (Istimewa)
General Manager TC-UGGp Azizul Kholis pada diskusi terbuka yang digelar Jaringan Komunal Se-Danau Toba dan Sumatera Utara di Kota Medan, Sabtu (1/3/2025). (Istimewa)

TC-UGGp juga akan bekerja sama dengan BPODT untuk bergerak dalam pengembangan pariwisata. Ia mengajak Jaringan Komunal Se-Danau Toba dan Sumatra Utara untuk bersama sama dengan tujuh kabupaten sekawasan Danau Toba dalam memperkenalkan kembali Geopark Toba Caldera.

“Bukan persoalan green, yellow atau red card. Tapi persoalan pengembangan saintifik dan culture. Program ini ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa tugas kita memuliakan Danau Toba, mengikut pariwisata, kebudayaan, ekonomi dll,” katanya.

Diskusi terbuka Jaringan Komunal Se-Danau Toba dan Sumatera Utara ini mengusung topik “Toba Caldera Unesco Global Geopark – Kartu Hijau atau Kartu Merah?”. Diskusi bertujuan menggali pemahaman yang menyeluruh terhadap kinerja institusi terkait.

Menurut Ojax Manalu dari Rumah Karya Indonesia, diskusi ini bertujuan menghadirkan realita sesungguhnya atas ego sektoral dalam pengelolaan kawasan Danau Toba. Danau Toba, menurut Ojax, tidak hanya persoalan air, tanah dan udara. Melainkan juga  manusia, satwa, kontur alam dan peradaban.

“Danau Toba hari ini adalah perpanjangan Danau Toba dari masa lalu dengan segala kompleksitasnya. Sudah seharusnya semua bekerja sama untuk Danau Toba hari ini dan masa depan,” ujarnya.

Leave a Comment