Generasi Muda Jadikan Laut sebagai Ruang Aksi Bela Negara

Erupsi.com, Batu Bara – Semangat memperingati kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya diwujudkan melalui upacara dan pengibaran bendera. Di pesisir Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara, generasi muda memilih cara lain untuk merayakannya: turun langsung menjaga laut, menanam mangrove, membersihkan pantai hingga memulihkan terumbu karang.

Rangkaian kegiatan tersebut dikemas dalam Aksi Bela Negara 2026 yang diinisiasi Yayasan Naluri Fauna Indonesia (NAFAS) bersama Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Sumatera Utara dan Mahasiswa Pecinta Alam Perguruan Tinggi Muhammadiyah Seluruh Indonesia Regional I (Mapala PTMSI I).

Mengusung tema “Penguatan Ekonomi Biru Berkelanjutan untuk Menjaga Kedaulatan Keanekaragaman Hayati Laut Indonesia”, kegiatan ini berlangsung melalui sejumlah agenda edukasi dan aksi konservasi pada akhir Juli hingga 17 Agustus 2026.

Ketua Yayasan NAFAS, Badar Johan, mengatakan bahwa gagasan tersebut berangkat dari pandangan bahwa bela negara memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar menjaga wilayah secara fisik.

“Bela negara bukan hanya tentang mempertahankan wilayah, tetapi juga tentang menjaga kedaulatan keanekaragaman hayati nasional yang menjadi kekuatan bangsa,” kata Johan, Senin (17/8/2026).

Peserta Aksi Bela Negara 2026 foto bersama usai menjalani kegiatan di Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara, Minggu (16/8/2026). (Dokumentasi Yayasan NAFAS)
Peserta Aksi Bela Negara 2026 foto bersama usai menjalani kegiatan di Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara, Minggu (16/8/2026). (Dokumentasi Yayasan NAFAS)

Menurut Johan, laut Indonesia merupakan bagian penting dari kekayaan bangsa yang keberadaannya berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, menjaga ekosistem pesisir dan laut perlu menjadi tanggung jawab bersama, terutama dengan melibatkan generasi muda.

Rangkaian Aksi Bela Negara 2026

Rangkaian Aksi Bela Negara 2026 diawali dengan Seminar Aksi Bela Negara yang digelar secara daring pada Kamis (30/7/2026). Seminar menjadi ruang untuk membahas ekonomi biru, konservasi pesisir dan laut, serta pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Sejumlah pemateri dari berbagai latar belakang turut terlibat dalam agenda tersebut, antara lain perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Sumatera Utara, Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Utara, aktivis mangrove, Yakopi, Yayasan Fifan Laut Nusantara hingga Recyclo Goods.

<yoastmark class=

Materi yang disampaikan beragam, mulai dari ekonomi biru dan kedaulatan, ekosistem terumbu karang, EcoEdu Wisata, konservasi mangrove, pembiayaan berkelanjutan konservasi perairan hingga pengelolaan sampah. Seluruhnya fokus pada satu pemahaman bahwa keberlanjutan lingkungan harus berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat.

Kegiatan kemudian bergerak dari ruang diskusi ke lapangan. Pada Minggu (16/8/2026), peserta bersama masyarakat kelompok tani mangrove melakukan penanaman bibit mangrove di kawasan pesisir Batu Bara.

Kegiatan penanaman mangrove dalam Aksi Bela Negara 2026 di Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara, Minggu (16/8/2026). (Dokumentasi Yayasan NAFAS)
Kegiatan penanaman mangrove dalam Aksi Bela Negara 2026 di Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara, Minggu (16/8/2026). (Dokumentasi Yayasan NAFAS)

Mangrove, kata Johan, memiliki fungsi penting bagi kawasan pesisir. Mulai dari membantu menahan abrasi, menjaga garis pantai, menyediakan habitat bagi berbagai biota hingga menyimpan karbon. Penanaman tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan konsep blue carbon dan ekonomi biru. Keduany tidak hanya berbicara mengenai pemanfaatan laut. Tetapi juga bagaimana sumber daya tersebut tetap terjaga.

Sehari berikutnya, bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, kegiatan berlanjut dengan aksi bersih pantai. Para peserta bergotong royong mengumpulkan dan memilah sampah di kawasan pesisir.

Bagi NAFAS, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan sampah laut tidak lepas dari perilaku manusia di daratan. Kebersihan laut pada akhirnya bermula dari kesadaran untuk menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggal.

Semangat nasionalisme kemudian begitu terasa ketika kegiatan memasuki agenda pengibaran Bendera Merah Putih di laut. Menurut Johan, simbol tersebut sekaligus menyampaikan pesan bahwa wilayah perairan merupakan bagian penting dari Indonesia yang memiliki kekayaan hayati luar biasa. Semua ini harus tetap lestari.

Rangkaian kegiatan tuntas dengan transplantasi terumbu karang sebagai bagian dari rehabilitasi ekosistem laut. Terumbu karang tidak hanya menjadi habitat berbagai biota, tetapi juga memiliki nilai ekologis dan ekonomi bagi masyarakat yang kehidupannya bergantung pada sumber daya pesisir.

Aksi Bela Negara dan Peringatan Kemerdekaan RI yang Bukan Seremoni Belaka

Johan menilai, berbagai kegiatan tersebut penting untuk memastikan peringatan kemerdekaan tidak berhenti pada simbol dan seremoni. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan merupakan bentuk tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

“Harapannya, kegiatan ini dapat menginspirasi semakin banyak pihak untuk mengambil bagian dalam menjaga ekosistem pulau, pesisir dan laut di pantai timur Sumatera Utara. Apa yang kita lakukan hari ini mungkin sederhana, tetapi akan menjadi berarti ketika lita lakukan bersama dan terus berlanjut,” ujarnya.

Peserta menjalani kegiatan dalam Aksi Bela Negara 2026 di Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara, Minggu (16/8/2026). (Dokumentasi Yayasan NAFAS)
Peserta menjalani kegiatan dalam Aksi Bela Negara 2026 di Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara, Minggu (16/8/2026). (Dokumentasi Yayasan NAFAS)

Pelaksanaan Aksi Bela Negara 2026 melibatkan sejumlah unsur dan kalangan. Mulai dari pemerintah, organisasi olahraga selam, mahasiswa, komunitas lingkungan, masyarakat, relawan, akademisi, dunia usaha hingga media.

Kolaborasi tersebut antara lain melibatkan Pemerintah Kabupaten Batu Bara, POSSI Sumatera Utara, Mapala PTMSI Rayon I, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. Kemudian Badan Kesbangpol Sumatera Utara, Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Utara serta sejumlah organisasi dan komunitas lainnya.

“Ketika pemerintah, masyarakat, komunitas, generasi muda dan berbagai pihak bergerak dalam satu semangat, konservasi tidak lagi menjadi pekerjaan kelompok tertentu. Ia menjadi gerakan bersama untuk memastikan laut tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi yang akan datang,” kata Johan.

Keterangan foto utama:

Peserta menanam mangrove pada Aksi Bela Negara 2026 di Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara, Minggu (16/8/2026). (Dokumentasi Yayasan NAFAS)

Tinggalkan komentar